Bandung — Pemerintah daerah di Jawa Barat terus mendorong pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan kearifan lokal sebagai fondasi utama. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan kelestarian lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program pembangunan di sektor infrastruktur, pariwisata, dan ekonomi kreatif mulai diarahkan agar selaras dengan nilai-nilai budaya Sunda. Mulai dari penggunaan arsitektur tradisional pada fasilitas publik, pengembangan desa wisata berbasis adat, hingga pemberdayaan UMKM lokal yang mengangkat produk dan filosofi budaya setempat.
Menurut pemerintah daerah, pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan daya saing wilayah, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat di tengah arus globalisasi. Pembangunan yang berakar pada budaya diyakini mampu menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga hasil pembangunan.
Di sektor pariwisata, konsep wisata berbasis budaya dan alam semakin diminati. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga diajak mengenal tradisi, kesenian, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat lokal. Hal ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga, sekaligus menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Pengamat pembangunan menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis. Pembangunan yang mengabaikan kearifan lokal berisiko menimbulkan konflik sosial dan kerusakan lingkungan. Sebaliknya, pendekatan yang inklusif dan berbudaya mampu menciptakan pembangunan jangka panjang yang lebih stabil.
Ke depan, pemerintah daerah berharap kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan akademisi dapat terus diperkuat. Dengan demikian, pembangunan di Jawa Barat tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan, tetapi juga pada kualitas hidup dan keberlanjutan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. (Red)



