
Mukomuko – Sejumlah warga di Kecamatan XIV Koto, Kabupaten Mukomuko, mengeluhkan aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beroperasi di tengah permukiman. Warga menilai kegiatan memasak yang dimulai sejak pukul 03.00 WIB dini hari berpotensi mengganggu ketenangan dan waktu istirahat malam, Rabu, 11 Februari 2026.
Seorang warga Lubuk Sanai yang enggan disebutkan namanya mengaku khawatir keberadaan dapur MBG di lingkungan tempat tinggalnya berdampak pada kenyamanan warga sekitar.

“Kami tentu khawatir keberadaan dapur MBG di tengah permukiman bisa mengganggu ketenangan dan waktu istirahat,” ujarnya.
Menurut ibu rumah tangga tersebut, dapur MBG yang menempati bangunan hasil renovasi rumah warga mulai beroperasi sejak dini hari hingga pagi. Aktivitas mesin dapur dan proses persiapan makanan disebut cukup terdengar hingga ke rumah-rumah sekitar.
“Kebisingan mesin dapur mengganggu kenyamanan, terutama di tengah malam sekitar pukul 3. Kalau pagi sampai sore tidak masalah, tetapi kalau tengah malam jelas mengganggu waktu tidur,” tuturnya.
Keluhan senada juga disampaikan warga lain yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia menyebut belum pernah ada sosialisasi langsung terkait operasional dapur MBG di lingkungan tersebut.
“Kami tidak menolak program MBG, tetapi sebaiknya dapur ditempatkan agak jauh dari permukiman sehingga tidak mengganggu ketenangan warga,” katanya.
Warga berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan aspirasi tersebut dan mencari solusi agar program tetap berjalan tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Sementara itu, pengelola dapur MBG Kecamatan XIV Koto, Fajar Anita, saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan telepon pada Selasa, 10 Februari 2026, mengakui bahwa aktivitas dapur memang dimulai pada malam hingga dini hari.
“Iya, aktivitas memang dilaksanakan malam hari. Kami akan berusaha memaksimalkan perbaikan secara bertahap demi kenyamanan warga sekitar,” ujar Anita.
Ia menegaskan bahwa keberadaan dapur MBG di Kabupaten Mukomuko umumnya memang berada di tengah permukiman warga, bukan hanya di lokasi yang dikelolanya.
“Semua dapur MBG di Kabupaten Mukomuko keberadaannya di tengah permukiman warga, bukan dapur saya saja,” tambahnya.
Terkait persoalan lingkungan, Anita mengaku telah berkoordinasi dengan warga sekitar serta bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Mukomuko dalam penanganan sampah.
“Mengenai lingkungan, saya sudah berkonsultasi dengan tetangga. Terkait sampah, sudah bersinergi dengan Pemda Mukomuko,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah menyediakan tujuh kolam penampungan limbah, meski berukuran kecil karena keterbatasan lahan. Anita menyebut Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko telah melakukan pengecekan lapangan dan menyatakan pengelolaan limbah memenuhi standar operasional prosedur (SOP).
“Mengenai limbah, pihak Dinkes Kabupaten Mukomuko sudah cross-check di lapangan dan memenuhi SOP,” jelasnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan asupan gizi masyarakat. Namun, di tingkat pelaksanaan, aspek teknis seperti lokasi dapur, jam operasional, dan dampak kebisingan menjadi perhatian warga.
Sejumlah warga berharap ada penataan ulang jam operasional atau peredaman suara mesin agar aktivitas dini hari tidak lagi mengganggu waktu istirahat. Pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi penengah, memastikan program sosial tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan hak warga atas lingkungan yang nyaman dan tenang. (PPWI Mukomuko/Red)



